Samudra Pasai Bukti Peradaban Islam Pertama Di Nusantara

0
1289

POLITIKACEH.CO | Aceh Timur (25/03) – Presiden Joko Widodo menetapkan Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara sebagai Nol Kilo Meter masuknya islam tidak memiliki dasar yang kuat.

Menurutnya Mustafa yang juga lulusan Fkip Sejarah Universitas Unsam Langsa menyebutkan, dasar sejarahnya ditetapkan Kota Barus sebagai Nol Kilo Meter masuknya islam ke Indonesia (Nusantara) sangat lemah, karena tidak ada temuan sejarah yang menguatkan daerah tersebut menjadi pintu masuknya islam ke Indonesia.

“Kalau hanya hasil historynya mengacu pada makam, itu sangat mustahil sebuah daerah bisa ditetapkan, dan sejarawan mana yang berani mengeklaim bahwa Barus adalah pertama masuknya islam ke Indonesia, apa tidak dibaca sejarah atau tidak tau sejarah” Ungkap Mustafa saat menghubungi Politikaceh.co, Sabtu 25 Maret 2017

Menurutnya Kota Barus dikenal dengan batu kapur Barus yang menjadi perdagangan hebat, namun itu sebelum masuknya islam ke Indonesia,” Sepengetahuannya Islam pertama di Indonesia adalah Samudra Pasai yakni di Peureulak, Aceh Timur, Aceh, dan pada saat itu pedagang Barus sering ke selat Malaka untuk menjual batu kapurnya, mereka pada saat itu belum islam, namun Peureulak sudah menjadi kerajaan islam, kan aneh jika kota Barus ditetapkan sebagai masuknya islam di Indonesia” Sambung Mustafa.

Menurut Mustafa yang juga salah satu Masyarakat pencinta Sejarah Aceh ini, peresmian Kota Barus sebagai Nol Kilo Meter Islam di Nusantara tidak terlepas dari kepentingan Presiden Jokowi,”Ada kepentingan apa tiba-tiba Jokowi langsung menetapkan, apakah sebalumnya sudah uji publik dan menggelar seminar seperti ditetapkan Samudra Pasai sebagai daerah pertama masuknya islam ke Indonesia bahkan asia tenggara” Lanjut Mustafa.

Sambungnya, jika kota Barus kini sudah ditetapkan sebagai daerah pertama masuknya islam ke Indonesia dengan sendirinya Aceh sudah lenyap dimuka bumi tidak adalagi keistimewaan Aceh yang bisa ditampilkan kepada Dunia, dan ini tidak bisa dibiarkan,”DPRA harus bangun sampai sejarah kita diklaim orang, satu persatu sejarah kita diklaim orang, apa kita tetap tidur dan menerima apa adanya”Pungkas Mustafa. (Rom/Basri)

Foto: Ilustrasi

iklan bottom