POLITIKACEH.CO | Banda Aceh – Dari kasus pesta waria di Hermes semalam, menunjukkan di Aceh sendiri masih kurang penjagaan yang baik di hotel-hotel, juga kurangnya penerapan syariat di Aceh.

Firdha Ustin selaku aktivis KAMMI Unsyiah menyesalkan pesta waria di Hotel Hermes yang disampaikan melalui pers rilis ke media, Minggu (17/12/2017) malam.

“Belajar dari kasus-kasus sebelumnya yang terjadi di Hotel Hermes, seharusnya bisa jadi bahan evaluasi ke depannya buat pihak hotel. Pengawasannya harus lebih diperketat lagi oleh pemerintah kota Banda Aceh agar tidak terulang lagi,” ujar mahasiswi FISIP Unsyiah.

Dalam hal ini Firdha memberi gagasan kepada pihak hotel. “Kalaupun pihak Hermes memberikan izin, seharusnya mereka tanya dulu untuk acara apa? Siapa saja yg menghadiri kegiatan itu? Lebih diperketat agar mewaspadai kejadian-kejadian lain yang tidak baik akan terjadi kedepannya,” katanya.

“Saya pribadi menyesalkan sekali atas kejadian pesta Waria di Hermes. Apalagi jika dikaitkan tepat sehari setelah Ajuan MK yang ditolak tentang LGBT. Kita bisa menilai sepertinya ada pihak-pihak yang emang mendukung LGBT ini,” imbuh Mahasiswi asal Subulussalam.

Jikapun ditolak oleh MK, sebagai mahasiswa jangan bungkam, harus tetap menyuarakan kebenaran. Tanpa bosan menyuarakan kebenaran itu sendiri. Selaku mahasiswa harus peduli dengan apa yang terjadi di sekeliling kita. Khususnya Aceh Banda Aceh tempat para mahasiswa berkuliah.

Firdha menambahkan, “Aceh dikenal dengan penerapan syariatnya, tidak layak sekali ada kontes LGBT di Hotel ternama di Banda Aceh. Harapan saya kedepannya semoga pemerintah lebih bisa mengontrol, mengawasi, dan mengevaluasi,” harap Firdha

“Semoga kedepannya bisa lebih diwaspadai dan lebih diperketat penerapan syariatnya, khususnya di hotel-hotel,” tegas aktivis KAMMI Unsyiah tersebut.||[Najmi]