POLITIKACEH.CO | Bireuen – Semaraknya kejadian mahasiswi Aceh yang ditangkap beberapa waktu lalu oleh Personel Reskrim Polresta Banda Aceh sebagai pekerja seks komersial telah mencoreng nama baik Aceh yang dijuluki serambi mekah atau lebih dikenal dengan kentalnya syariat islam.

Ketua Divisi Pendidikan SPMA Kabupaten Bireuen, Elga Safitri menenerangkan dalam rilisnya yang diterima media (27/03/2018) bahwa, “pengakuan mereka melakukan hal itu dikarenakan butuh uang untuk lifestyle. Hal ini tentu sangat memalukan masyarakatnya Aceh terutama Srikandi (Inoeng) Aceh lainnya. Apakah seperti itu mindset Inoeng Aceh mengekspresikan gaya hidupnya?”.

“Merebaknya kasus di Aceh yang kian mengkhawatirkan generasi kedepannya merupakan akibat dari kurangnya moral (iman) yang seharusnya menjadi pegangan mereka dalam menjalani tantangan hidup ini. Permasalahan ini harus segera di tuntaskan oleh pemerintah, keluarga dan juga masyarakat agar sama-sama saling menjaga serta menasehati supaya kasus ini tidak terulang lagi,” imbuh Elga.

Menurut Elga, “Ada banyak hal positif yang bisa dilakukan Inoeng Aceh apalagi yang masih muda dalam mengekspresikan gaya hidupnya dan tentunya harus bermanfaat bagi diri sendiri ataupun orang lain. Pemikiran maju yang harus dikembangkan sesuai aturan dan yang paling penting tidak melanggar syariat islam”.

“Di zaman yang semakin canggih ini, setiap orang berlomba-lomba untuk tampil keren dan terlihat hebat. Hal ini bisa diwujudkan dengan memberikan prestasi sesuai skill masing-masing. Baik itu di bidang akademik, non akademik atau pun hobi yang bisa dikembangkan untuk hal yang positif,” terang Elga.

“Saya berharap kedepannya, generasi Aceh mampu berpikir cerdas dan berkarakter islam yang kuat demi masa depan yang gemilang. Mengikuti trend itu boleh saja asalkan tetap dalam hal positif. Keren itu berprestasi bukan bangga jadi bagian dari prostitusi apalagi cuma ikuti trend yang dapat merugikan diri sendiri,” tegas Elga. ||[*]