POLITIKACEH.CO | Pidie Jaya – Pasca penggunduran dirinya sebagai sekretaris DPC partai demokrat Kabupaten Pidie Jaya pada 25 juni 2018 lalu, Ramli SH mengakui ada kecurangan dalam struktur organisasi politik partai demokrat.

Hal tersebut diungkapkan saat jumpa pers kamis, (28/06). Bertempat di warkop pojok serambi jalan komplek perkantoran dinas Kabupaten Pidie Jaya. Dirinya menilai ada serobotan oknum tokoh yang masuk dan mempengaruhi elektabilitas politik partai dengan jorgan demokrasi tersebut.

” Saya kader partai demokrat DPC Pidie Jaya dan bisa dibilang termaksuk perintis, bagaimana mungkin kepentingan kader di nomor duakan dengan kepentingan tokoh yang baru hadir dalam partai Demokrat “, terangnya.

Dalam surat pernyataan yang dilayangkan keseluruh pimpinan Demokrat baik DPP maupun DPD ia menerangkan, sebelum menggundurkan diri dirinya telah melaksanakan tugas serta amanat partai yang diantaranya :

‌Perintah dari ketua DPD Partai Demokrat Aceh untuk setiap DPC di daerah harus mempunyai kantor, kantor telah disewa aktif yang berlokasi di jalan medan Banda Aceh simpang tiga Mereudu Kabupaten Pidie Jaya lengkap dengan fasilitas kantor, hal tersebut merupakan penggunaan dana pribadi bukan kas partai.

‌Perintah DPP Demokrat untuk memenangkan pasangan Gub/Wagub Aceh yang di usung Demokrat pada pilkada serentak 2017, dibuktikan dengan surat keputusan tim pemenangan bersama partai koalisi sebagai wakil ketua I tim pemenangan Kabupaten Pidie Jaya.

‌Verifikasi partai, sehingga partai demokrat di Kabupaten Pidie Jaya lulus verifikasi dan merekrut kader partai sebanyak 256 orang sesuai dengan arahan dari DPP dan DPD tanpa bantuan dari penggurus dan kader Demokrat yang lain.

‌perintah DPP untuk membentuk Tim penjaringan caleg yang telah dilaksanakan serta membuka penjaringan caleg bagi putra putri terbaik Kabupaten Pidie Jaya, telah terjaring 80 persen untuk menjadi bakal calon legislatif pada pileg 2019 mendatang.

Dirinya mengukapkan kekecewaan besarnya atas tindakan yang dilakukan pihak DPD partai demokrat dengan memberhentikan jabatan tanpa ada pemberitahuan dan hanya mendengar kabar dari mulut ke mulut kader. [PONCUT].