Para Perawat Sumber Infeksi Di Rumah Sakit ?

0
121

POLITIKACEH.CO | Banda Aceh (11/07) – Rumah sakit adalah salah satu tempat yang dapat menyebabkan terjadinya infeksi. Pasien, pengunjung, penunggu pasien dan petugas kesehatan merupakan kelompok yang memiliki risiko besar terhadap terjadinya infeksi, karena infeksi ini dapat menular dari pasien ke petugas kesehatan ataupun dari petugas ke pasien dan dari pasien ke pengunjung atau keluarga. Oleh karena itu, perlu adanya pengendalian infeksi di rumah sakit untuk keselamatan pasien.

Keselamatan pasien telah menjadi isu global. Ada lima isu penting yang terkait dengan keselamatan di rumah sakit, yaitu keselamatan pasien, keselamatan petugas kesehatan, keselamatan bangunan dan peralatan di rumah sakit yang bisa berdampak terhadap keselamatan pasien dan petugas, keselamatan lingkungan yang berdampak terhadap pencemanaran lingkungan dan keselamatan “bisnis” rumah sakit yang terkait dengan kelangsungan hidup rumah sakit.

Namun harus diakui bahwa kegiatan institusi rumah sakit dapat berjalan apabila ada pasien. Karena itu keselamatan pasien merupakan prioritas utama. Keselamatan Pasien adalah unsur yang paling penting dalam pelayanan kesehatan, Sasaran Keselamatan Pasien merupakan bab dasar dalam penilaian akreditasi. Kelompok sasaran ini menggaris bawahi mengenai ketepatan identitas, peningkatan komunikasi, keamanan obat, pembedahan yang aman, pengurangan resiko infeksi, dan pengurangan resiko pasien jatuh.

Untuk itu dalam pengurangan dan pengendalian resiko infeksi, upaya yang dilakukan seluruh rumah sakit yaitu dengan adanya program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI). PPI ini berguna dalam meminimalisir terjadinya infeksi yang terjadi di Rumah Sakit. PPI merupakan program yang dibentuk berdasarkan kaidah organisasi dengan memiliki banyak fungsi dan dapat menyelenggarakan tugas, wewenang dan tanggung jawab secara efektif dan efisien.

Efektif dimaksud agar sumber daya yang ada di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya dapat dimanfaatkan secara optimal antara lain dilaksanakan oleh IPCO (infection prevention control officer), IPCN (infection prevention control nurse), dan IPCLN (infection prevention control link nurse). Keberhasilan program dari PPI di suatu rumah sakit ditandai dengan kesadaran dari petugas pelayanan kesehatan dalam upaya menurunkan angka infeksi, terutama perawat yang memiliki kontak langsung dengan pasien.

Mengapa perawat? Karena perilaku perawat mempengaruhi upaya pencegahan dan pengendalian yang ada di pelayanan kesehatan khususnya rumah sakit, dengan adanya peran perawat dalam melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi yang ada di rumah sakit akan mempengaruhi dalam hasil sebagai salah satu tujuan untuk upaya pencegahan infeksi.

Infeksi yang berada di rumah sakit dinamakan infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial adalah infeksi yang diperoleh atau terjadi di rumah sakit, karena kerentanan terhadap invasif agen pathogen atau infeksisus yang tumbuh dan menyebabkan sakit. Infeksi nosokomial paling sering terjadi karena faktor petugas kesehatan dengan pengetahuan yang kurang, keterampilan dan kurangnya kesadaran dari direksi dikalangan medis, serta para medis yang menganggap remeh dalam memenuhi Standard Operational Prosedure (SOP) kerja. Sehingga para petugas pelayanan kesehatan yang bekerja di fasilitas layanan kesehatan memiliki risiko terpapar infeksi nosokomial yang berpotensi mengancam jiwa.

Peran perawat sebagai pemberi asuhan keperawatan dan terlibat kontak langsung dengan pasien sangat berkaitan dengan terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit dan perawat bertanggung jawab menyediakan lingkungan yang aman bagi pasien terutama dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi. Peran perawat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah bertanggung jawab atas lingkungan yang mendukung keamanan pasien dan sterilitas ruangan. Maka dari itu, dapat dijelaskan bahwa peran-peran perawat dalam mencapai kebebasan pasien dari infeksi antara lain menjaga kebersihan rumah sakit yang berpedoman terhadap kebijakan rumah sakit dan praktik keperawatan.

Pemantauan teknik aseptik termasuk cuci tangan sebelum dan sesudah memberikan tindakan pada pasien, penggunaan isolasi, melapor kepada dokter jika terdapat kendala yang dihadapi terutama jika ditemui adanya gejala infeksi pada saat pemberian layanan kesehatan, melakukan isolasi jika pasien menunjukkan tanda-tanda dari penyakit menular, ketika layanan kesehatan tidak tersedia, membatasi paparan pasien terhadap infeksi yang berasal dari pengunjung, staf rumah sakit, atau pasien lain.

Sterilisasi peralatan yang digunakan untuk diagnosis atau asuhan keperawatan, mempertahankan suplai peralatan, obat-obatan dan perlengkapan perawatan yang aman dan memadai di ruangan, proses penyebaran infeksi tersebut sangat tergantung kepeda peran perawat.

Pada beberapa Negara berkembang, terdapat risiko perlukaan akibat jarum suntik dan paparan terhadap darah dari cairan tubuh pasien, lebih tinggi dibanding dengan negara negara maju pada perawat. Hal ini disebabkan karena kurangnya kesadaran dan pengetahuan petugas kesehatan mengetahui cara mengendalikan infeksi.

Menurut World Health Organization (WHO) yang mencetuskan untuk memberikan pelayanan dan perawatan secara bersih untuk keselamatan pasien (Patient Safety). Salah satu cara yang dapat dilakukan yaitu dengan merumuskan inovasi strategi penerapan hand hygiene untuk petugas kesehatan dengan My five moments for hand hygiene, yaitu melakukan cuci tangan sebelum kontak dengan pasien, sebelum melakukan tindakan aseptik, setelah terpapar cairan tubuh pasien, setelah kontak dengan pasien dan setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien.

Cuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan terjadinya infeksi. Cuci tangan yang benar adalah cuci tangan yang dilaksanakan dengan prosedur yang benar dengan 6 langkah teknik secara berurutan serta pada lima waktu/momen yang tepat. Cuci tangan 6 langkah menurut WHO dapat meminimalisir terjadinya penyebaran infeksi di Rumah Sakit.

Kebersihan tangan mengacu pada proses membersihkan tangan dengan cairan antiseptik berbasis alkohol. Memang, bagi sebagian orang mungkin terlihat sepele karena cuma sekedar cuci tangan tetapi ada manfaat luar biasa dari tindakan tersebut jika dilaksanakan sesuai dengan yang telah dianjurkan.

Dalam pengaturan kesehatan, cuci tangan yang benar adalah cara paling sederhana untuk mengurangi lintas transmisi mikroorganisme yang terkait dengan infeksi yang menyebabkan peningkatan lama waktu dirawat, peningkatan biaya perawatan, dan bahkan kematian. Semoga pengendalian infeksi dengan My five moments for hand hygiene mengurangi proses penyebaran infeksi di rumah sakit.[Red*]

Penulis adalah Sri Diana Putri dan Nurhanifah, Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh

iklan bottom