Waspadai, Ada Polisi Infeksi disetiap Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Siapakah Itu ?

0
139

POLITIKACEH.CO | Banda Aceh (15/07) – Polisi infeksi, ditempat kita kata itu mungkin masih belum sering kita dengar namun di daerah lain kata polisi infeksi sudah tidak asing lagi. Lalu siapa sebenarnya polisi infeksi itu.

Polisi infeksi adalah orang yang menjaga dan mengawasi agar infeksi jangan sampai terjadi dan kalaupun sudah terjadi jangan sampai berpindah ke tempat yang lain lagi. Lalu muncul lagi pertanyaan siapa orangnya dan dimana tempatnya bekerja?.

Orangnya adalah perawat pencegah dan pengendali infeksi yang bekerja di instansi rumah sakit yang ada di seluruh Indonesia. Perawat pencegah atau pengendali infeksi yang dalam bahasa singkat medis disebut dengan IPCN (infection prevention and control nurse) adalah perawat yang bekerja dirumah sakit yang diangkat dengan kebijakan atau surat keputusan (SK) dari Direktur rumah sakit sebagai petugas yang bekerja purna waktu untuk melakukan pencegahan dan pengawasan terhadap hal-hal yang dapat memungkinkan terjadinya infeksi dirumah sakit, infeksi yang menjadi pantauan ini dulunya dikenal dengan infeksi nasokomial namun sekarang sudah berubah sebutannya menjadi HAIs ( health care associatied infections) yaitu infeksi yang terjadi akibat pelayanan kesehatan dirumah sakit ataupun fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Pencegahan dan pengendalian infeksi ini sudah lama dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan namun dulunya belum ada petugas khusus yang menangani hal tersebut. Tapi sejak mulai diberlakukannya akreditasi rumah sakit diseluruh Indonesia, setiap rumah sakit diwajibkan memiliki IPCN.

Pada akreditasi rumah sakit versi 2012 dulu, ratio perbandingan kebutuhan IPCN masih berlaku 100 sampai dengan 150 tempat tidur pasien harus ditangani oleh seorang IPCN. Sejalan dengan perubahan undang undang yaitu Peraturan Menteri Kesehatan atau PMK No. 27 tahun 2017 tentang pedoman pencegahan dan pengendalian infeksi di fasilitas pelayanan kesehatan, dikatakan bahwa fasilitas pelayanan kesehatan harus memiliki IPCN yang bekerja purnawaktu dengan ratio 1 orang IPCN untuk tiap 100 tempat tidur di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut.

Dalam akreditasi SNARS Edisi I dan JCI (joint commission international) dikatakan bahwa rumah sakit menetapkan perawat PPI/IPCN dengan jumlah dan kualifikasi sesuai dengan regulasi. Berdasarkan hal itu setiap rumah sakit dituntut harus memiliki IPCN sesuai dengan regulasi tersebut.

Masyarakat umum mungkin masih banyak yang belum mengetahui tentang IPCN ini atau mengetahui bahwa dirumah sakit ada perawat yang bertugas khusus untuk melakukan pencegahan dan pengawasan terhadap infeksi karena tidak ada tanda khusus yang membedakan antara IPCN dengan perawat lain. Yang membedakan antara IPCN dengan perawat lainnya adalah dalam hal cara pemberian pelayanan dan area pelaksanaan tugas.

Dalam cara pemberian pelayanan perawat ruangan dirumah sakit memberikan pelayanan secara langsung kepada pasien berdasarkan kebutuhan dan masalah keperawatan pasien. IPCN tidak melakukan pelayanan langsung kepada pasien namun memberikan pelayanan secara tidak langsung dengan melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap semua hal yang dapat menimbulkan infeksi akibat pelayanan dengan dibantu oleh IPCLN (infection prevention and control link nurse) yaitu link atau perwakilan IPCN yang berada disetiap ruangan yang ada dirumah sakit.

IPCLN tidak bekerja purna waktu melainkan bertugas sesuai dengan jadwal tugas dan posisi atau jabatan diruang masing masing. Perawat yang diangkat menjadi IPCLN berbeda beda pula antar rumah sakit, tergantung kebijakan dari rumah sakit tersebut.

Di beberapa rumah sakit IPCLN nya adalah seorang kepala ruangan, ada yang wakil kepala ruangan, ada yang ketua tim, ada juga yang hanya perawat pelaksana biasa namun punya minat dan ketertarikan terhadap pencegahan dan pengendalian infeksi.

Dalam hal area kerja perawat ruangan memiliki area kerja masing- masing sesuai dengan bidang keahlian seperti perawat ruang intensif yang hanya bekerja di ruang intensif, perawat bedah hanya bekerja di ruang bedah dan begitu juga dengan perawat ruangan lainnya.

Area kerja IPCN meliputi seluruh area atau wilayah kerja dirumah sakit mulai dari pintu masuk sampai pintu keluar, mulai dari pintu depan sampai pintu belakang IPCN melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap infeksi.
Siapa yang diawasi oleh IPCN? IPCN melakukan pengawasan terhadap semua orang yang berada di lingkungan rumah sakit. Siapapun yang telah memasuki wilayah rumah sakit mulai dari pintu gerbang depan sampai pintu gerbang belakang. Mulai dari tingkat paling atas yaitu direktur sebagai pimpinan tertinggi di rumah sakit sampai ke tingkat paling bawah termasuk cleaning service dan satpam bahkan sampai kepada keluarga pasien dan pengunjung rumah sakit.

Apa saja yang diawasi oleh IPCN? IPCN melakukan pengawasan terhadap semua hal dan semua aspek memungkinkan terjadinya infeksi akibat pelayanan kesehatan di rumah sakit. Infeksi dapat terjadi akibat penularan penyakit atau perpindahan organisme pathogen penyebab infeksi baik dari pasien ke pasien, dari pasien ke petugas, dari petugas ke pasien, dari pasien ke peralatan dan lingkungan rumah sakit, maupun dari pasien ke pengunjung ataupun sebaliknya. Begitu seterusnya terjadi seperti suatu rantai penularan infeksi yang saling berhubungan antara satu sama lainnya. Rantai penularan infeksi itulah yang harus diputus untuk mencegah terjadinya infeksi akibat pelayanan kesehatan, dengan program pencegahan dan pengendalian infeksi yang dilakukan oleh IPCN bersama dengan Komite PPIRS (komite pencegahan dan pengendalian infeksi rumah sakit) sebagai bidang di rumah sakit yang bertugas untuk melaksanakan program PPI ( pencegahan dan pengendalian infeksi).

Program pencegahan dan pengendalian infeksi meliputi pendidikan dan pelatihan kewaspadaan isolasi, pencegahan infeksi pada pemasangan alat kesehatan dan kegiatan surveilans. IPCN juga melakukan sosialisasi PPI kepada seluruh peserta didik dan pengunjung yang datang ke rumah sakit. Sosialisasi PPI kepada peserta didik dilakukan berkoordinasi dengan bidang diklat melalui acara materikulasi kepada semua peserta didik yang menggunakan rumah sakit sebagai lahan praktek kliniknya baik PPDS (program pendidikan dokter spesialis), dokter muda, mahasiswa keperawatan, kebidanan, analis kesehatan dan lainnya.

Sosialisasi kepada pengunjung rumah sakit dilakukan bekerjasama dengan instalasi PKRS (promosi kesehatan rumah sakit) untuk memberikan penyuluhan atau pendidikan kesehatan kepada masyarakat atau pengunjung rumah sakit tentang bagaimana melakukan pencegahan infeksi melalui cuci tangan yang benar dan penerapan etika batuk serta penggunaan APD (alat pelindung diri) yang benar.

Dalam melaksanakan tugasnya hariannya, IPCN mengunjungi seluruh ruang rawat dan area rumah sakit lainnya untuk memonitor dan menilai kepatuhan petugas dalam menerapkan PPI meliputi kebersihan lingkungan, kepatuhan cuci tangan dan lainnya.

Petugas yang tidak patuh diberikan teguran dan bimbingan. Dan apabila dirasakan masih sangat kurang dalam pengetahuan dan pemahaman tentang pelaksanaan PPI maka akan dilakukan sosialisasi kembali.

Selain melakukan pengawasan terhadap petugas rumah sakit IPCN juga melakukan pengawasan kepada seluruh keluarga pasien dan pengunjung yang datang ke rumah sakit. pengunjung yang tidak mematuhi penerapan PPI akan diberi teguran dan bimbingan seperti pengunjung yang tidak mematuhi aturan besuk pasien, menggelar tikar pada waktu siang hari pada saat petugas sedang melakukan tindakan kepada pasien, keluarga yang membawa anak kecil usia dibawah 12 tahun ke rumah sakit, dan lain sebagainya.

Teguran yang diberikan baik kepada petugas, pasien dan keluarganya maupun pengunjung rumah sakit bukan bermaksud untuk memberi hukuman atau menyalahkan tapi untuk mengingatkan dan meningkatkan kesadaran akan bahaya penularan infeksi yang mengancam siapapun yang berada di lingkungan rumah sakit yang tidak mengindahkan cara pencegahan dan pengendalian infeksi yang selalu dan terus menerus disampaikan dengan berbagai cara baik melalui ceramah, pemasangan poster maupun melalui buklet dan buletin yang ada di rumah sakit.

Terkadang dalam melakukan tugasnya IPCN terkesan seperti polisi, karena siapapun dan apapun yang dilihat dan dirasa telah melanggar kaidah penerapan PPI akan langsung ditegur. Baik itu petugas rumah sakit seperti dokter atau perawat yang tidak melakukan cuci tangan dengan benar, mahasiwa keperawatan atau dokter muda yang tidak menggunakan alat pelindung diri dengan benar atau membuang sampah sembarangan tanpa memilah antara sampah medis infeksius dengan sampah rumah tangga, petugas cleaning service yang tidak memakai alat pelindung diri yang sesuai standar, pengunjung rumah sakit yang merokok sembarangan sampai ke petugas kantin yang tidak menyiapkan makanan dan minuman secara higienis.

Siapa saja yang melanggar dimana dan apa jabatan akan ditegur dan diingatkan. Semuanya hanya demi menjaga agar semua yang ada dan berada di lingkungan rumah sakit tidak mendapat infeksi, karena infeksi atau kuman bisa menular kepada siapa saja tidak mengenal apakah itu pasien atau pengunjung, perawat atau dokter.

Karena pekerjaannya yang selalu menegur dan mengingatkan orang itulah makanya IPCN sering disebut dengan polisi infeksi, polisi sampah atau polisi gulung tikar. Kalau polisi aparatur Negara punya semboyan “turn back crime”, maka polisi infeksi atau IPCN punya semboyan “turn back infection”.

Apakah yang bisa menjadi polisi infeksi itu hanya IPCN saja? Sebenarnya tidak. Siapapun bisa menjadi polisi infeksi namun tentunya tanpa pengangkatan dan SK. Karena untuk saling menegur dan mengingatkan akan bahaya infeksi dirumah sakit bisa dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kesadaran dan kemauan untuk saling menjaga demi keselamatan bersama.

* Penulis adalah Afriani & Belinda Muharma Passa merupakan Mahasiswa program studi magister manajemen keperawatan Fakultas keperawatan Unsyiah. [RED]

iklan bottom