POLITIKACEH.CO | Bireuen (15/08) – Perdamaian Aceh bukan lahir begitu saja namun membutuhkan proses pengorbanan harta, nyawa dan keluarga demi memperjuangkan harkat dan martabat bangsa ini.

Suara senjata diseluruh pelosok, mayat terdampar di mana-mana seolah perang tidak akan reda seperti hari ini, air mata masyarakat setiap hari mengalir, rasa sedih dan trauma rakyat alami sehingga Aceh terpuruk tanpa perputaran ekonomi yang tajam dan pembangunan infrastruktur yang memadai dikarenakan pembakaran dan penembakan selalu terjadi di setiap sudut bangsa.

Dengan sampai saat ini, telah 13 tahun perdamaian Aceh perlu introspeksi diri para pejuang yang memangku amanah rakyat diparlemen eksekutif maupun legislatif menelaah apa faktor apa dan kenapa rakyat masih jauh dari kata sejahtera, bahkan hingga saat ini masih ada sejuta harapan yang tersisa oleh mantan para pejuang.

Besar harapan rakyat Aceh kepada para eks kombatan GAM yang pernah berjuang, agar bersatu dalam satu barisan memperjuangkan wasiat untuk menjaga perdamaian Aceh dan membawa rakyat ke arah kehidupan yang sejahtera, 13 tahun cukuplah sudah para elit yang membawa nama Aceh untuk kepentingan pribadi atau kolompok meninggalkan marwah perjuangan yang hilang tanpa arti karena jabatan dan kekuasan, saling melupakan dan bermusuhan.

Sudah saatnya satukan langkah bedakan pilihan dan bagun kekompakan mencapai tujuan untuk kemerdekaan Aceh baik ekonomi, pendidikan kesehatan dan sosial.

Para anak syuhada, dan para duafa menanti perubahan di pelosok desa, otonomi khusus Aceh hampir habis tapi rakyat masih sengsara, maka 13 tahun ini menuju kedepan memerlukan ide dan gagasan dalam keikhlasan membangun Aceh yang bermartabat sesuai sumpah masa dalam rimba dulu.

Refleksi 13 tahun perdamaian Aceh semoga menjadi momentum untuk seluruh rakyat Aceh dan seluruh para eks kombatan yang pernah berjuang kembali bercermin pada cita cita yang sempat terabaikan. Sejarah masa lalu ingatan untuk masa depan, namun doa dan harapan semua niat Kemuliaan tercapai dalam jiwa pejuang.[RED_Pon]

* Penulis adalah alumni SPMA Bireuen
Azhari ketua umum GPPM