POLITIKACEH.CO | Aceh Selatan (24/09) – Pasca pemberitaan isu yang beredar tentang pemalsuan dokumen tender atas paket pekerjaan pembangunan PPI Labuhan Meukek mencuat ke publik, masyarakat kembali mempertanyakan tentang bahan baku kerja atau sumber material yang digunakan pada pekerjaan tersebut.

Berdasarkan informasi di lapangan, wartawan Politikaceh.co mendapatkan keterangan dari warga yang mengetahui adanya penambangan galian C yang diduga tidak mengantongi izin di kawasan galian batu gajah Labuhan Tarok Meukek Kabupaten Aceh Selatan.

Saiful, salah satu warga sekitar mengatakan, benar ada aktivitas pengalian batu gajah yang disuplai untuk paket pekerjaan di PPI labuhan Tarok. “Ada masuk batu gajah ke proyek pelabuhan, itu diambil dari lokasi kurang lebih 1 km dari dekat lokasi Quarry Ramli juragan.” ujarnya.

Meskipun dalam proses penggalian perkara oleh kejaksaan tinggi Aceh, tender Pembangunan Break water dan pembangunan Revetmen PPI Labuhan Tarok Meukek Kabupaten Aceh Selatan APBA 2018 tetap berjalan terhitung 4 (empat) hari sejak pemasangan papan proyek.

Teuku Ramli pengusaha yang bergerak di bidang penyediaan bahan baku di salah satu Quarry menerangkan, diwilahnya hanya terdapat tiga penguasa Quarry yang masih memegang izin galian yaitu Khadafi, Tengku is dan dirinya. Namun, sumber material tersebut bukan dari ketiga pengusaha tersebut.

“Permintaan saya supaya ada keadilan disini, mohon pihak berwenang menertibkan galian galian ilegal yang sudah berjamur di kabupaten Aceh Selatan ini”.

Ia menambahkan, “banyak pengusaha Quarry yang sudah mati izin galiannya dan tidak diperpanjang lagi, itulah kenapa administrasi surat dukungan saya ada dipalsukan kemarin dan masih di proses, ini dikarenakan pihak kontraktor tau hanya ada tiga pengusaha yang masih memegang izin galian C aktif disini.” terangnya.

Dirinya menambahkan, apabila pemerintah dan pihak berwenang tidak merespon hal ini jangan salahkan masyarakat yang secara leluasa mengekploitasi gunung serta hutan untuk dijadikan sumber penghasilan, hal ini tentunya akan berakibat pada kerusakan ekosistem dan hutan Aceh yang semakin buruk.

Disamping itu, Pemenang paket tender Pembangunan Break water dan Revetmen PPI Labuhan Tarok Meukek Kabupaten Aceh Selatan APBA – Otsus Aceh 2018 masih menjadi misteri dikarenakan kelengkapan dokumen yang disyaratkan oleh layanan pengadaan secara elektronik (LPSE) Provinsi Aceh diduga kuat palsu, dan sejauh ini belum adanya penjelasan tentang hal tersebut.

Paket dengan kode lelang 17066106 memiliki nilai pekerjaan Rp. 5.820.000.000 (Lima Milyar Delapan Ratus Dua Puluh Juta Rupiah), merupakan paket dengan sumber dana APBD Provinsi Aceh tahun anggaran 2018 pada Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh. Dan dituangkan dalam keterangan papan proyek dengan nomor kontrak 602/DPA/SKPA/PPI.3/123.6/VIII/2018 dengan nilai perubahan Rp. 5.121.000.000 bersumber dari dan APBA-Otsus Aceh 2018, tanggal mulai pekerjaan 27 Agustus sampai dengan 20 Desember 2018 (25 hari kelender). [PONCUT]